Selasa, 19 November 2013
Teman Musiman
Pernah punya masalah dengan teman yang tidak pernah terdengar kabarnya, tiba-tiba datang meminjam uang? Kasih pinjam atau tidak ya? Seringkali kita bingung bagaimana menghadapinya. Dipinjami bagaimana, tidak dipinjami bagaimana. Kebetulan, tulisan kali ini aku ingin membagi beberapa cerita seputar permasalahan pinjam meminjam uang, dan bagaimana menghadapinya. Sebenarnya topic ini sudah lama ingin aku tulis, tapi karena belum menemukan moment yang tepat untuk menuangkannya, maka terpendam sekian lama di agendaku.
Dua hari ini aku ditelfon oleh seorang teman perempuan katakanlah X. X ini adalah teman dari masa laluku. Sebenarnya aku ketemu dia lagi, 3 tahun lalu, pada sebuah resepsi pernikahan temen baikku di Jakarta . Di resepsi itu kami sempat bertukar-tukaran kartu nama dan nomor handphone. Sejak itu, kami tidak pernah berhubungan lagi, dan terlupakan begitu saja.
Kira-kira, satu bulan yang lalu, dia menelfon aku untuk pertama kalinya setelah pertemuan 3 tahun lalu. Setelah ngobrol-ngobrol basa basi, akhirnya dia menjelaskan maksudnya. Dia sedang susah, usahanya terancam disita, dan dia membutuhkan sejumlah uang yang cukup besar yaitu Rp 65 juta. Tentu aku tidak bisa membantu dia memberikan uang sebanyak itu. Namun, atas pengertian dan rasa simpati atas masalah yang sedang dia hadapi, dan juga mempertimbangkan bahwa dulu waktu kecil kami pernah bersahabat, aku menawarkan untuk membantu kurang dari 10% dari jumlah yang ia perlukan. Aku katakan, “Aku hanya bisa bantu kamu sejumlah itu. Kapan kamu bisa mengembalikannya?” Dia bilang “1-2 minggu.” dengan yakinnya.
Sebenarnya aku tidak suka bila persahabatan dibumbui dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan uang. Pinjam meminjam adalah salah satu hal yang sangat aku jaga. Aku tidak akan pernah membiarkan diriku meminjam uang kepada salah satu temanku, demikian pula sebaliknya. Karena, biasanya, umumnya, something not right will happened after that.
Kalau aku boleh memilih, tentu aku memilih persahabatan yang murni tanpa ada unsur-unsur ini itu di dalamnya. Aku lebih percaya dengan persahabatan yang berkualitas, adalah persahabatan yang komunikasinya baik, tidak mementingkan diri sendiri, dan saling mengerti, bahkan tanpa harus mengutarakan bahasa verbal, tentu kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan bila seorang sahabat baik kita mengalami masalah atau kesulitan keuangan. Sehingga banyak masalah yang bisa diminimalis sesungguhnya.
Selama 1 minggu pertama, aku sengaja membiarkan temenku itu. Tapi tepat seminggu, aku sms dia, “bagaimana? Apakah sudah bisa mengembalikan pinjamanmu?”
Sebenernya aku berpengalaman banget deh sama urusan pinjam meminjam itu. Sebelum X ini sudah ada puluhan temen yang meminjam dari ku dengan nominal yang beraneka ragam, dari puluhan ribu sampai jutaan. Jadi motoku cuma satu, “kalau dia saja tidak sungkan untuk minjam? Kenapa harus sungkan untuk menagih?” hahahahha… yah buat sebagian orang yang kenal baik dengan aku, pasti tahu bahwa aku gak begitu hobby basa basi. Kata sahabat baikku, aku sudah terlatih sekali menghadapi orang-orang seperti itu dengan caraku haha.
Setelah menelfon 3 kali tapi tidak diangkat dan akhirnya sms 2 kali barulah si X itu Menjawab. “maaf ric, boleh mnt perpanjangan gak? Uangnya blm ada. Satu minggu lagi ya, aku janji gak bakal telat lagi. Thank you.” dan aku hanya menjawab singkat singkat ala tukang kredit professional “Oke.” dan sampai hari H aku tidak pernah menganggu-ganggu dia. Biarkan dia menikmati masa-masa tenang sebelum hari H. hehe.
Minggu kedua, straight to the point, aku sms dia nomor rekening ku dengan kata-kata pembuka “Hai X, apa kabar? ini nomor rekening aku, kalau sudah ditransfer sms ya. Thank you.”
Jujur saja ya, sebenarnya ketika aku mengiyakan / menyanggupi untuk membantu meminjamkan uang, 60% otakku sudah aku persiapkan dengan kemungkinan uangku tidak kembali. Yang 20% sebenarnya aku hanya ingin mengetahui kredibilitas temenku itu. Apakah dia orang yang bisa aku percaya, yang bisa aku pegang omongannya atau tidak.
SMS ku dijawab dengan enteng, “sorry ric, kayaknya gue mesti ngecewain loe lagi. Uangnya sih sebenernya sudah ada. Tapi kl gue transfer ke loe sekarang, gue jadi gak punya pegangan ric.” Hmmmh..
Apa yang mesti aku lakukan ya.. Orang ini kok enak banget.. Akhirnya kujawab gini “Maaf ya X, sebenarnya uangnya sih gak aku fikirin. Tapi aku perlu itikad baikmu, dan recordmu. Kamu berani berjanji, kamu harus berani tepati. So. Tunjukkan ke aku kalau kamu memang sahabat yang bisa dipercaya.”
Tiga hari kemudian, ya uangku kembali. Setelah itu dia menghilang lagi, tidak ada kabar tidak ada sms dan tiba-tiba, dua hari yang lalu dia menelfon lagi. Biasalah basa-basi menanyakan kabarku, anakku, pekerjaan, masak apa hari itu, liburan kemana dll. Setelah berbasa-basi dia meceritakan kalo keadaanya tidak membaik. Anak-anak harus bayar uang sekolah, dllsbnya. Lalu aku memotong pembicaraan bahwa aku kedatangan tamu. Aku sudah bisa menebak arah pembicaraannya.
Untuk tipe teman yang seperti ini aku memanggilnya ‘teman musiman”. Kenapa musiman? Karena hanya datang pada musim-musim tertentu dan hilang pada musim-musimnya. Maksudku, datang hanya ketika membutuhkan.
Kemarin sore, sms masuk dari X, mengatakan dengan ringannya bahwa dia butuh pinjaman 10-15 juta, dengan masa pinjam selama 1 bulan sampai 45 hari. Ketika sms itu aku baca, aku sudah tahu harus menjawab apa. Bagiku, temen yang baik, bukan temen yang hanya mencari bila membutuhkan. Hubungan yang baik adalah, hubungan yang intens. Bukan kuantitas yang menjadi standardnya melainkan kualitas hubungannya.
Aku jawab dengan ringan, seringan dia minta bantuan “Maaf X, jangan terlalu mengharapkan aku. Aku sudah tidak bisa membantu kamu lagi. Terima kasih atas pengertiannya. Thank you.”
Dan S tidak menjawab smsku setelah itu. Mau marah, silakan, mau nangis silakan.. Tapi setelah Menjawab sms itu, ada rasa lega. Lebih baik Menjawab tidak pada saat itu juga daripada menunda dengan berkata “oke aku bicara dulu dg suamiku ya.. Nanti aku kabari deh.. “ kesannya memberi harapan dan hanya mengulur waktu padahal tetap jawabannya tidak.Kita sering begitu kan ?
So, tips buat temen-temen yang punya “Teman Musiman:
1. Kenali dulu orang yang ingin meminjam dari anda. Apakah dia meminjam benar-benar karena membutuhkan atau karena habit. Dan yakinkan bahwa orang tersebut adalah orang yang memang bisa memegang omongannya.
2. Ketika kita bersedia membantu meminjamkan sejumlah uang, siapkan hati anda bahwa ada kemungkinan uang itu akan sulit kembali atau bahkan tidak kembali. Sebenarnya lebih baik memberi daripada meminjamkan, karena ketika kita memberi kita tidak mengharapkan uang itu kembali. Dan kita tidak perlu menghabiskan energi utk memikirkan soal uang yang tidak kembali.
3. Kalau pun harus meminjamkan, tanyakan kapan ia akan mengembalikan uang anda. dan catat baik-baik tanggal tersebut.
4. Ketika saatnya tiba, tidak usah sungkan untuk meminta. Itu hak anda kok. Itu uang anda. Kalau dia saja tidak sungkan untuk meminjam dari anda, kenapa anda sungkan meminta kembali uang anda?
5. Kalau pada saatnya tiba, dia tetap tidak merespon atau mengembalikan uang anda. Coba lagi beberapa kali. SmS kan murah sekarang, cuma 150 rupiah per sms, bahkan kalo dari CDMA cuma rp 50 lho.. Hitung-hitung meneror dia haha. Karena peminjam seneng dengan kreditor yang malas nagih.
6. Kalau uang anda tidak kembali juga… lebih baik coret nama teman anda dari daftar orang yang harus dibantu. Anda tidak mau bermasalah ke 2 kali kan? Berteman biasa saja.. Tanpa embel-embel uang dibelakangnya.
Setelah beberapa kali mengalami masalah dengan temen yang suka meminjam uang, aku jadi tahu bahwa memang ada tipe orang yang memang punya habit meminjam uang. Survive dari gali lubang tutup lubang. Bahkan kKebanyakan mereka terlalu boros atau tidak bisa memanage keuangan mereka atau karena terjebak dengan pemakaian kartu kredit yang berlebihan. Sehingga gaji atau uang tidak pernah cukup sementara mereka selalu haus untuk membeli barang-barang yang mereka inginkan.So.. Apakah tipe ini yang patut kita bantu?
Semoga tulisan diatas bermanfaat, untuk temen-temen yang selalu merasa terbeban dengan temen-temen yang hobi minjam uang tapi hobby lupa (tidak) mengembalikan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar